psychology hamemayu hayuning buwana

psychology menjaga keselarasan dan keharmonisan dunia dalam bidang apa saja…

wah, blog ini gk pernah update, huuuuuuuuu…….

December 30, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Bagaimana Membangun Komunikasi

 

Lalu lintas dua arah seringkali menimbulkan kemacetan, terutama di daerah yang padat kendaraan. Tetapi, tidak demikian dengan komunikasi. Komunikasi dua arah justru memperlancar hubungan di berbagai bidang, baik di tempat kerja maupun di rumah. Membangun komunikasi dua arah memang tidak mudah, tetapi siapa tahu dengan menyimak yang berikut, Anda pun bisa melakukannya.

APAKAH PERLU KOMUNIKASI DUA ARAH?

Untuk mengetahui apakah Anda memang perlu membangun komunikasi dua arah, coba jawab beberapa pertanyaan berikut.
• Apakah anak buah atau bawahan Anda sering datang kepada Anda dan secara nyaman menyampaikan ”unek-unek” mereka?
• Apakah Anda dan tim Anda bisa saling menerima kritik tanpa mengambil sikap defensif?
• Apakah Anda tahu rasa frustrasi, masalah, keinginan, minat anggota tim Anda?
• Apakah Anda sering menanyakan pendapat atau masukan dari anggota tim tentang suatu keputusan yang akan Anda ambil?
• Apakah dalam rapat dengan tim, ada kebebasan menyatakan pendapat, memberi usulan dan saran?
Jika sebagian besar jawaban Anda adalah ”tidak”, maka kemungkinan besar Anda perlu membangun komunikasi dua arah. Namun, jika sebaliknya, jawaban Anda kebanyakan adalah ”Ya”, Anda telah memupuk terjadinya komunikasi dua arah, namun tidak ada salahnya untuk menyimak beberapa kendala komunikasi dan usulah strategi komunikasi berikut.

KENDALA KOMUNIKASI
Roger Neugebauer dalam artikelnya ”Communication: A two-way Street” mengungkapkan beberapa kendala yang sering dialami oleh sebuah organisasi dalam berkomunikasi dua arah.
Protectiveness (Perlindungan). Pimpinan seringkali tidak memberitahukan informasi tertentu pada karyawannya atau timnya karena takut akan menyakiti hati karyawan. Alasan lain adalah bahwa pimpinan menganggap bahwa informasi tersebut harus dilindungi, dan bukan untuk konsumsi karyawan karena karyawan tidak akan mungkin mengerti apa yang akan disampaikan. Demikian pula dengan karyawan, mereka sering tidak menyampaikan informasi tertentu kepada pimpinan untuk melindungi dirinya dari tindakan pemecatan atau peringatan. Mereka takut jika informasi disampaikan maka pimpinan akan marah, lalu mendiskreditkan mereka, memberikan penilaian yang negatif terhadap mereka (sehingga berdampak pada kenaikan gaji yang kecil), atau bahkan yang paling ekstrem adalah memecat mereka.
Defensiveness (Pertahanan). Selain menahan informasi, seseorang juga bisa saja tidak mau menerima informasi (menolak untuk mendengar informasi yang disampaikan). Hal ini terjadi jika mereka sudah membentuk emosi negatif terhadap orang yang memberi informasi, mungkin karena orang tersebut telah merendahkan dengan kata-kata yang menyakitkan. Hal ini membuat ia merasa ”diserang”, sehingga secara alami, orang yang merasa diserang tersebut membangun benteng pertahanan dengan menahan informasi yang masuk. Ia menganggap informasi tersebut juga akan membuatnya sakit hati. Misalnya saja ada Pak Arief yang memberi komentar kurang baik tentang prestasi seorang anak buahnya. Anak buah Pak Arief cenderung merasa bahwa masukan tersebut ”menyerang” harga dirinya, egonya, dan kualitas kerjanya. Padahal sebenarnya Pak Arief hanya ingin memberikan masukan untuk perbaikan, tetapi masukan ini disampaikan dengan kata-kata yang tidak dipikirkan dulu penyampaiannya. Ketika merasa diserang maka anak buah Pak Arief cenderung akan marah, dan menutup ”telinga” terhadap informasi lainnya yang mungkin saja berguna untuknya (misalnya: informasi mengenai strategi memperbaiki kinerjanya).
Tendency to evaluate (Kecenderungan untuk menghakimi). Jika mendapat informasi dari seseorang mengenai keburukan orang lain, pimpinan cenderung mengambil sikap yang mengevaluasi tanpa mengumpulkan data yang lengkap sebelum berkomunikasi dengan orang yang dibicarakan tersebut. Karena terpengaruh oleh pandangan satu orang, pimpinan langsung membentuk opini tertentu dan mengambil keputusan sepihak tanpa melibatkan orang-orang yang terkait, dan tanpa mengumpulkan fakta lapangan yang cukup. Ini bukanlah merupakan komunikasi dua arah, tetapi komunikasi satu arah, atau bahkan bisa dikatakan bahwa tidak terjadi komunikasi sama sekali.
Narrow perspectives (Perspektif yang sempit). Karena jarang meninjau pekerjaan orang lain, atau keluar dari lingkungan pekerjaan sendiri, seseroang seringkali dibatasi pada cara pandangnya sendiri. Ia tidak mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Pimpinan yang sering mengambil keputusan besar yang menyangkut keputusan keuangan dan strategi operasional secara umum, seringkali tidak mempertimbangkan detail pelaksanaan pekerjaan dan sudut pandang para pekerjaan. Sebaliknya, para karyawan, seringkali hanya melihat suatu masalah dari sudut pandangnya sendiri (kepentingan individunya semata, tanpa mencoba memahami sebuah situasi dari sudut pandang yang berbeda). Sempitnya perspektif inilah yang sering menyebabkan konflik (tiap orang hanya melihat dari sudut pandang sendiri, dan tidak mencoba memahami orang lain). Sebagai contoh, keputusan seorang pemimpin untuk membatasi percakapan telepon selama tiga menit saja, dianggap sebagai keputusan yang tidak populer, apalagi untuk bagian marketing yang sering kali menggunakan telepon untuk berhubungan dengan calon pelanggan atau pelanggan yang ada.
Mismatched expectations. Peter Drucker mengatakan bahwa pikiran manusia seringkali hanya membatasi informasi yang cocok dengan ekspektasinya Jika, ternyata informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka orang tersebut cenderung tidak termotivasi untuk mendengarkan informasi yang disampaikan. Misalnya: jika dalam rapat-rapat ternyata seringkali tanggapannya tidak diperhatikan, maka karyawan cenderung enggan menyatakan pendapat, karena ia beranggapan percuma saja menyampaikan pendapat, karena biasanya juga tidak ada follow-up-nya. Demikian pula dengan pimpinan, yang sering mendengarkan pendapat karyawan yang dianggapnya tidak relevan dengan keputusan yang akan diambil. Pimpinan tersebut cenderung tidak mendengarkan pendapat dari orang tersebut di waktu-waktu yang berikutnya.
Insufficient time. Alasan lain adalah keterbatasan waktu untuk menyampaikan informasi secara menyeluruh. Karena kegiatan rutin yang harus diselesaikan dengan segera, seringkali waktu berkomunikasi dilupakan, atau komunikasi dilakukan dengan tergesa. Akibatnya, informasi yang disampaikan kepada orang lain pun tidak lengkap. Dampaknya adalah orang lain hanya menerima sebagian informasi (tidak utuh), sehingga ada kemungkinan informasi tersebut salah dipahami.

MEMBANGUN KOMUNIKASI DUA ARAH
Setelah memahami berbagai kendala yang menghambat terjadinya komunikasi dua arah, kita akan lebih mudah untuk menyusun strategi guna membangun komunikasi dua arah tersebut. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa dicoba.
Mendengar. Dalam komunikasi dua arah, ada yang berbicara, dan ada yang mendengar. Yang sering terjadi adalah tiap pihak saling menunggu kesempatan untuk berbicara tanpa meluangkan waktu untuk mendengar apa yang disampaikan pihak lain (karena ia sibuk menyiapkan apa yang akan disampaikan). Seringkali, banyak permasalahan dapat terselesaikan justru bukan karena seseorang menjadi pembicara yang handal, melainkan karena ia bersedia memahami orang lain dengan cara mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan (keluhan, masalah, keinginan, harapan). Informasi yang didengar inilah yang bisa dijadikan dasar untuk menentukan langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah.
Terbuka. Untuk mendorong tiap pihak untuk saling terbuka, seorang pimpinan hendaknya tidak menghukum orang yang menyampaikan pendapat, masalah, atau perasaannya. Keterbukaan bisa juga dibuatkan wadahnya, yaitu melalui bulletin board, kotak saran, atau media antarkaryawan. Karyawan yang menyampaikan pendapat atau ide yang bisa dimanfaatkan perusahaan, bisa diberikan hadiah, atau penghargaan. Demikian juga dengan karyawan yang bisa mengidentifikasi atau mengantisipasi masalah serta mengusulkan alternatif pemecahannya.
Menyamakan persepsi. Komunikasi dua arah sering terhambat karena adanya perbedaan persepsi terhadap suatu masalah. Dengan demikian, dalam berkomunikasi, ada baiknya disampaikan juga latar belakang pemikiran dari ide yang disampaikan, sehingga orang lain juga bisa memiliki persepsi yang sama, berangkat dari persepsi yang sama, atau paling tidak memahami persepsi orang yang menyampaikan informasi tersebut. Jika pemahaman sudah tergalang, maka komunikasi dua arah akan lebih mudah mengalir.
Komunikasi empat mata. Banyak juga karyawan yang enggan menyampaikan pendapat karena sungkan berbicara di hadapan banyak orang, padahal mungkin saja karyawan tersebut memiliki ide yang brilian. Seorang pimpinan bisa mencoba melakukan komunikasi dua arah terhadap anak buahnya secara regular untuk memahami kebutuhan, ekspektasi, masalah mereka. Dengan komunikasi empat mata, bawahan mungkin saja lebih nyaman menyatakan pendapat atau menyampaikan permasalahan yang ditemuinya di lapangan. Jadi, komunikasi empat mata penting untuk dilakukan dengan lebih sering, tidak hanya ketika melakukan evaluasi kerja tahunan.
Ada banyak cara untuk membangun komunikasi dua arah, beberapa di antaranya baru saja kita bahas bersama. Mungkin Anda bisa memilih mana yang paling cocok untuk Anda, atau mengkombinasi beberapa strategi untuk mencapai komunikasi dua arah dengan lebih mudah, dengan hasil yang lebih baik. Selamat berkomunikasi! n

November 24, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Anda Bersikap Terbuka atau Tertutup?

 

Sikap terbuka (open mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi yang efektif. Lawannya: dogmatisme.

Mari kita lihat bagaimana karakteristik orang yang bersikap terbuka dikontraskan dengan karakteristik orang tertutup (dogmatis) yang saya ramu dari buku Psikologi Komunikasi – nya Jalaluddin Rahmat, dalam daftar berikut ini.

Sifat Orang Yang Terbuka
Pertama, seorang yang bersifat terbuka biasanya menilai pesan secara obyektif, dengan menggunakn data dan keajegan logika.

Kedua, orang terbuka rata-rata lebih mampu membedakan sesuatu dengan mudah, mampu melihat nuansa-nuansa.

Ketiga, orang yang bersifat terbuka lebih banyak berorientasi pada isi (content) ketimbang orangnya, bungkus atau polesan-polesannya.

Keempat, orang ini mau mencari informasi dari berbagai sumber, tidak hanya puas dengan satu nara sumber.

Kelima, ia lebih profesional dan bersedia tanpa malu-malu dan tanpa khawatir bersedia untuk mengubah kepercayaannya, keyakinannya, pendapatnya, jika memang itu terbukti salah.

Sifat Mereka Yang Tertutup
Pertama, ia suka menilai pesan berdasarkan motif pribadi. Orang dogmatis tidak akan memperhatikan logika suatu proposisi, ia lebih banyak melihat sejauh mana proposisi itu sesuai dengan dengan dirinya. Argumentasi yang obyektif, logis, cukup bukti akan ditolak mentah-mentah. “Pokoknya aku tidak percaya” begitu sering diucapkan orang dogmatis. Setiap pesan akan dievaluasikan  berdasarkan desakan dari dalam diri individu (inner pressures). Rokeach menyebut desakan ini, antara lain, kebiasaan, kepercayaan, petunjuk perseptual, motif ego irasional, hasrat berkuasa, dan kebutuhan untuk membesarkan diri. Orang dogmatis sukar menyesuaikan dirinya dengan perubahan lingkungan.

Kedua, cara berpikirnya simplistis. Bagi orang dogmatis, dunia ini hanya hitam dan putih, tidak ada kelabu. Ia tidak sanggup membedakan yang setengah benar setengah salah, yang tengah-tengah. Baginya kalau tidak salah, ya benar. Tidak mungkin ada bentuk antara. Dunia dibagi dua: yang pro-kita dimana segala kebaikan terdapat, dan kontra-kita dimana segala kejelekan berada.

Ketiga, lebih banyak berorientasi pada sumber. Bagi orang dogmatis yang paling penting ialah siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan. Ia terikat sekali pada otoritas yang mutlak. Ia tunduk pada otoritas, karena seperti umumnya orang dogmatis ia cenderung lebih cemas dan mempunyai rasa tidak aman yang tinggi.

Keempat, kalau ia mencari informasi ia akan mencari dari sumber-sumbernya sendiri. Orang-orang dogmatis hanya mempercayai sumber informasi mereka sendiri. Mereka tidak akan meneliti tentang orang lain dari sumber yang lain. Pemeluk aliran agama yang dogmatis hanya mempercayai penjelasan tentang keyakinan aliran lain dari sumber-sumber yang terdapat pada aliran yang dia anut.

Kelima, secara kaku mempertahankan dan membela sistem kepercayaannya. Berbeda dengan orang terbuka yang menerima kepercayaannya secara provisional, orang dogmatis menerima  kepercayaannya secara mutlak. Orang dogmatis kuatir, bila satu butir saja dari kepercayaanya yang berubah, ia akan kehilangan seluruh dunianya. Ia akan mempertahankan setiap jengkal dari wilayah kepercayaanya sampai titik darah penghabisan.

Dan yang terakhir, ia tak mampu membiarkan inkonsistensi. Orang dogmatis tidak tahan hidup dalam suasana inkonsisten. Ia menghindari kontradiksi atau benturan gagasan. Informasi yang tidak konsisten dengan desakan dari dalam dirinya akan ditolak, didistorsi, atau tidak dihiraukan sama sekali.

Nah, agar komunikasi interpersonal yang kita lakukan melahirkan hubungan interpersonal yang efektif, dogmatisme harus digantikan dengan sikap terbuka. Tentu, bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap sportif. Sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian, saling menghargai, dan –yang paling penting- saling mengembangkan kualitas hubungan kita sendiri.

Bagaimana menurut Anda?

November 24, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Kecanduan Internet Ganggu Kesehatan dan Rumah Tangga

Jakarta – Secara tidak sadar, sebagian orang menganggap internet sebagai kebutuhan primer bagi hidupnya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang termasuk kedalam golongan addict atau kecanduan.

Walau kecanduan disini belum bisa didefinisikan sebagai ‘penyakit’, namun menurut Dr. Diane M. Wieland dari Perspectives in Psychiatric Care, kecanduan Internet dapat berdampak buruk terhadap kehidupan si pecandu.

Selama ini Wieland telah menangani beberapa pasien yang digolongkan sebagai mereka yang kecanduan Internet. “Bila dilihat dari rata-ratanya, saya pikir 5 hingga 10 persen dari keseluruhan pengguna Internet pernah mengalami kecanduan Internet,” paparnya.

Menghabiskan waktu yang terlalu lama dan ke’gilaan’ terhadap Internet dianggap Wieland dapat merusak hubungan seseorang dengan lingkungan keluarganya, terlebih bagi mereka yang sudah menikah. “Obsesi dan menghabiskan waktu didepan komputer dapat memberikan keretakan dalam kehidupan nyata dan bisa mengarah ke perceraian,” jelas Dr. Wieland.

Hal tersebut dipaparkan Wieland menurut pengalamannya menangani mereka yang memiliki perilaku menyimpang dan merusak rumah tangganya. “Kontak di cyberspace dapat mengakibatkan gangguan bagi hubungan seseorang, misalnya dengan melakukan hubungan virtual yang mampu dijajaki hingga hubungan seks virtual (cybersex,-red),” jelas Wieland.

Kecanduan internet juga dapat mengakibatkan seseorang menunjukkan perilaku ‘menagih’ yang disebut dengan ‘cyber shakes’. Hal itu ditunjukkan dengan keresahan yang berlebihan dikala offline dan melakukan gerakan jemari yang terlihat seperti mengetik keyboard, walaupun saat tidak didepan komputer.

Selain itu, kecanduan internet juga dianggap tidak baik bagi kehidupan sosial seseorang. Pasalnya, kecanduan Internet dapat menurunkan aktifitas sehari-hari dan menyebabkan seseorang jauh dari interaksi sosial didunia luar.

Lebih lanjut Wieland menjelaskan bahwa tanda-tanda dari mereka yang kecanduan Internet juga dapat dilihat dari keadaan kesehatannya.

“Biasanya, para pecandu Internet mengalami gangguan tidur karena terlalu banyak menghabiskan waktu online, kurang istirahat dan kesehatan fisik yang menurun,” imbuh Wieland. Demikian detikINET mengutip laporan Reuters, Jumat (19/05/2006). (amz)
( nks )

November 24, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Psikologi Olahraga

Ruang Lingkup Psikologi Olahraga

Seiring dengan semakin besarnya industri olahraga, psikologi olahraga memegang peranan yang cukup signifikan. Dalam olahraga prestasi, peran psikolog olahraga dominan dalam mendongkrak prestasi para atlet. Misalnya dalam peningkatan motivasi, menghilangkan kecemasan, stress. Selain itu, peran seperti proses penyembuhan emotional disorders yang kerap di alami oleh para atlet profesional seperti anorexia, penggunaan obat terlarang, agresifitas, persoalan atlet dengan lingkungan keluarga, penonton, fans. Lihat yang sudah dilakukan oleh psikolog yang menangani Adriano, striker Inter Milan, dalam proses pengembalian perfomanya.

Bidang lain yang menjadi wilayah kerja psikologi olahraga adalah dalam konteks pelatihan. Di Eropa maupun Amerika, psikolog olahraga sudah terlibat dalam proses pelatihan para atlet. Peran vital pun dimainkan disini. Seorang psikolog menjadi partner bagi para pelatih dalam rangka menciptakan metode pelatihan yang efektif. Tentu saja dengan bekal ilmu psikologi. Perpaduan ilmu fisik manusia dengan ilmu psikis membuat pemahaman terhadap manusia lebih komplet. Banyak metode pelatihan yang merupakan sumbangan langsung dari dunia psikologi olahraga.

Selain dengan terjun langsung di lapangan, psikologi olahraga juga memberi sumbangan melalui riset. Riset tentang hubungan antara gerak tubuh dan konsep mental memberikan masukan bagi pengembangan teknik kepelatihan maupun pengembangan cabang olahraga itu sendiri.

Di awal kemunculannya, psikologi olahraga memang berperan untuk membantu menemukan teknik pelatihan yang efektif dan efisien dalam mengembangkan kemampuan atletis para atlet. Penelitian tentang waktu tempuh pembalap sepeda adalah tonggak sejarah munculnya psikologi olahraga.

Bidang pendidikan juga tidak luput dari dunia psikologi olahraga. Para psikolog olahraga banyak yang terjun langsung memberi pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus bagi pelatih dalam konteks pemahaman terhadap manusia untuk diimplementasikan dalam proses pencetakan para atlet.

Tidak hanya dalam konteks olahraga prestasi, psikologi olahraga juga berperan pengembangan olahraga sebagai salah satu sarana mencapai psychological well being atau untuk mencapai kesehatan mental bagi masyarakat. Karena terbukti bahwa olahraga merupakan salah satu sarana yang efektif untuk menghilangkan stress maupun depresi.

Bisa dikatakan bahwa saat ini dunia olahraga profesional maupun amatir sudah sangat tergantung pada kehadiran psikologi olahraga. Pengembangan cabang ilmu ini tentu akan memberi kontribusi yang semakin besar pada peningkatan kualitas atlet maupun cabang olahraga itu sendiri di masa depan.

Sayang memang, dunia olahraga Indonesia belum begitu memperhatikan aspek mental dalam pengembangan atlet. Peran psikolog olahraga di Indonesia pun baru sebatas konsultan bagi tim maupun atlet. Bidang garap dan ruang lingkup lain dari psikologi olahraga belum digarap dengan maksimal. Namun, semua harus dilakukan dengan penuh optimisme bahwa psikologi olahraga di Indonesia akan tumbuh berkembang dalam dunia olahraga Indonesia.

November 24, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Alzheimer

 

Alzheimer

Alzheimer’s disease is a brain disorder named for German physician Alois Alzheimer, who first described it in 1906. Scientists have learned a great deal about Alzheimer’s disease in the century since Dr. Alzheimer first drew attention to it. Today we know that Alzheimer’s:

    Is a progressive and fatal brain disease. As many as 5 million Americans are living with Alzheimer’s disease.Alzheimer’s destroys brain cells, causing problems with memory, thinking and behavior severe enough to affect work, lifelong hobbies or social life. Alzheimer’s gets worse over time, and it is fatal. Today it is the sixth-leading cause of death in the United States. For more information, see Warning Signs and Stages of Alzheimer’s Disease.

Is the most common form of dementia, a general term for the loss of memory and other intellectual abilities serious enough to interfere with daily life. Vascular dementia, another common type of dementia, is caused by reduced blood flow to parts of the brain. In mixed dementia, Alzheimer’s and vascular dementia occur together. For more information about other causes of dementia, please see Related Dementias.

  •  
    • Plaques build up between nerve cells. They contain deposits of a protein fragment called beta-amyloid (BAY-tuh AM-uh-loyd). Tangles are twisted fibers of another protein called tau (rhymes with “wow”).

    • Tangles form inside dying cells. Though most people develop some plaques and tangles as they age, those with Alzheimer’s tend to develop far more. The plaques and tangles tend to form in a predictable pattern, beginning in areas important in learning and memory and then spreading to other regions.

  • Has no current cure. But treatments for symptoms, combined with the right services and support, can make life better for the millions of Americans living with Alzheimer’s. We’ve learned most of what we know about Alzheimer’s in the last 15 years. There is an accelerating worldwide effort under way to find better ways to treat the disease, delay its onset, or prevent it from developing. Learn more about recent progress in Alzheimer science and research funded by the Alzheimer’s Association in the Research section.

     

     

    Alzheimer’s and the brain

    Just like the rest of our bodies, our brains change as we age. Most of us notice some slowed thinking and occasional problems remembering certain things. However, serious memory loss, confusion and other major changes in the way our minds work are not a normal part of aging. They may be a sign that brain cells are failing.

    The brain has 100 billion nerve cells (neurons). Each nerve cell communicates with many others to form networks.
    Nerve cell networks have special jobs. Some are involved in thinking, learning and remembering. Others help us see, hear and smell. Still others tell our muscles when to move.

    To do their work, brain cells operate like tiny factories. They take in supplies, generate energy, construct equipment and get rid of waste. Cells also process and store information. Keeping everything running requires coordination as well as large amounts of fuel and oxygen.

    In Alzheimer’s disease, parts of the cell’s factory stop running well. Scientists are not sure exactly where the trouble starts. But just like a real factory, backups and breakdowns in one system cause problems in other areas. As damage spreads, cells lose their ability to do their jobs well. Eventually, they die.


    The role of plaques and tangles

    Two abnormal structures called plaques and tangles are prime suspects in damaging and killing nerve cells. Plaques and tangles were among the abnormalities that Dr. Alois Alzheimer saw in the brain of Auguste D., although he called them different names.

    Scientists are not absolutely sure what role plaques and tangles play in Alzheimer’s disease. Most experts believe they somehow block communication among nerve cells and disrupt activities that cells need to survive.

    Early stage and younger onset

    Early-stage is the early part of Alzheimer’s disease when problems with memory, thinking and concentration may begin to appear in a doctor’s interview or medical tests. Individuals in the early-stage typically need minimal assistance with simple daily routines. At the time of a diagnosis, an individual is not necessarily in the early stage of the disease; he or she may have progressed beyond the early stage.

    The term younger-onset refers to Alzheimer’s that occurs in a person under age 65. Younger-onset individuals may be employed or have children still living at home. Issues facing families include ensuring financial security, obtaining benefits and helping children cope with the disease. People who have younger-onset dementia may be in any stage of dementia – early, middle or late. Experts estimate that some 500,000 people in their 30s, 40s and 50s have Alzheimer’s disease or a related dementia.


    History

    At a scientific meeting in November 1906, German physician Alois Alzheimer presented the case of “Frau Auguste D.,” a 51-year-old woman brought to see him in 1901 by her family. Auguste had developed problems with memory, unfounded suspicions that her husband was unfaithful, and difficulty speaking and understanding what was said to her. Her symptoms rapidly grew worse, and within a few years she was bedridden. She died in Spring 1906, of overwhelming infections from bedsores and pneumonia.

    Dr. Alzheimer had never before seen anyone like Auguste D., and he gained the family’s permission to perform an autopsy. In Auguste’s brain, he saw dramatic shrinkage, especially of the cortex, the outer layer involved in memory, thinking, judgment and speech. Under the microscope, he also saw widespread fatty deposits in small blood vessels, dead and dying brain cells, and abnormal deposits in and around cells.

    The condition entered the medical literature in 1907, when Alzheimer published his observations about Auguste D. In 1910, Emil Kraepelin, a psychiatrist noted for his work in naming and classifying brain disorders, proposed that the disease be named after Alzheimer.

November 24, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

FILOSOFI

Filosofi Pilihan Berganda

Semua orang menyukai soal pilihan berganda. Peserta ujian menyukainya karena soal jenis ini dianggap lebih mudah daripada soal isian atau essay. Tidak perlu lagi menyerahkan lembar jawaban yang kosong melompong akibat sama sekali tidak belajar . Pengajar menyukainya karena jauh lebih mudah memeriksa jawaban soal pilihan berganda. Bahkan prosedur pemeriksaan dapat diotomatisasi dengan menggunakan mesin OMR atau komputer. Pemeriksa tidak perlu lagi melakukan prosedur pemeriksaan lembar jawaban satu per satu secara manual yang sangat melelahkan. Pengelola institusi pendidikan menyukainya karena soal pilihan berganda tidak membutuhkan jumlah pemeriksa yang banyak yang tentunya akan membutuhkan dana ekstra.

Sebagian besar pelajar dan mahasiswa berusaha mencapai nilai dengan baik dengan cara belajar tentang topik yang diujikan. Tetapi saya perhatikan dari teman-teman saya bahwa hanya sebagian kecil yang dapat menggunakan intuisi atau analisis untuk memaksimalkan peluang mendapat nilai yang lebih tinggi lagi walaupun tidak 100% yakin dengan jawabannya.


Bagi saya, menjawab soal pilihan berganda adalah sebuah seni tersendiri, terutama jika tidak belajar sama sekali malam sebelumnya . Dan tentunya bukan hanya seni, tetapi juga kebutuhan karena sewaktu kuliah dulu tujuan saya adalah lulus dengan usaha seminimal mungkin . Selain itu otak saya lebih suka diajak berpikir daripada menghafal, akan sangat sulit bagi saya untuk bersaing dengan teman-teman yang setelah membaca satu kali saja masih akan tetap melekat di otak satu minggu kemudian . Sayangnya, sebagian besar ujian di Indonesia masih berupa ‘perlombaan menghafal’.

Tujuan peserta ujian pilihan berganda adalah memaksimalkan nilai dari pengetahuan yang kita miliki pada saat ujian, terlepas dari apakah pengetahuan tersebut cukup atau tidak untuk menjawab soal-soal dengan cara ‘biasa’.

Eliminasi jawaban yang pasti salah

Ini adalah trik yang paling jelas. Jika tidak yakin dengan sebuah jawaban, cobalah untuk mengeliminasi jawaban-jawaban yang sudah pasti salah. Untuk beberapa jenis soal, bahkan cara ini adalah satu-satunya cara untuk dapat menemukan jawaban tanpa perlu menghabiskan banyak waktu. Kesalahan banyak teman pada ujian matematika adalah selalu menjawab soal secara analitis padahal jawaban-jawaban yang salah dapat dengan mudah dieliminasi untuk mendapatkan solusi dari soal tersebut.

Pembuat soal yang malas terkadang membuat soal dengan jawaban yang terlalu mudah untuk ditebak.

Pilih jawaban yang paling panjang

Saran klasik sebelum menghadapi ujian terutama ujian ilmu-ilmu sosial adalah ‘pilih jawaban yang paling panjang dibandingkan jawaban lainnya’. Menurut pengalaman trik ini hanya berlaku untuk pembuat soal yang kurang berpengalaman yang terlalu sering membuat jawaban yang benar relatif jauh lebih panjang daripada jawaban-jawaban lainnya. Tetapi di lain pihak, soal-soal seperti ini juga beberapa kali muncul di ujian sekaliber UMPTN misalnya.

Untuk meminimalkan masalah ini, beberapa pembuat soal membuat soal jebakan. Soal tersebut biasanya tidak memiliki tingkat kesukaran yang tinggi dan memiliki satu jawaban yang jauh lebih panjang daripada jawaban lainnya, tetapi berbeda dengan biasanya, jawaban tersebut salah. Jika peserta ujian menemukan soal tersebut, maka ia akan menjadi ragu pada soal-soal berikutnya: apakah pembuat soal sedang mencoba menjebak saya lagi atau apakah kali ini ia ‘jujur’? Ini adalah sebuah teori permainan antara pembuat soal dan peserta ujian yang dapat digambarkan dalam matriks pembayaran dari sisi peserta ujian kira-kira sebagai berikut dengan asumsi peserta ujian tidak mengetahui jawabannya:

Menjebak Tidak menjebak
Memilih jawaban panjang 0 10
Tidak memilih jawaban panjang 2,5 0

Yang menjadi masalah adalah bagaimana mengetahui pembuat soal menjebak atau tidak? Peserta ujian perlu menggunakan intuisinya berdasarkan situasi yang ada. Akan lebih berguna jika ia menyelesaikan seluruh soal yang mampu ia kerjakan terlebih dahulu. Fakta lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa soal-soal jebakan jumlahnya akan jauh lebih sedikit daripada soal-soal bukan jebakan. Yang jelas peserta ujian tetap diuntungkan karena bisa bereaksi sesuai dengan tindakan yang diambil pembuat soal, sedangkan pembuat soal tidak bisa mengubah soal berdasarkan tindakan peserta ujian.

Pembuat soal yang baik mencoba meminimalkan ‘tebakan berhadiah’ seperti ini dengan cara menyamaratakan seluruh panjang jawaban, sehingga jawaban yang benar tidak dapat ditentukan dari panjangnya jawaban.

Soal-soal dalam kategori ini biasanya adalah jenis soal-soal yang paling menyebalkan. Biasanya pembuat soal mengambil sebuah kalimat dari buku, kemudian memecahnya menjadi dua buah bagian, bagian pertama ditempatkan pada soal, sedangkan bagian kedua ditempatkan pada salah satu jawaban. Sedangkan jawaban sisanya dikarang sehingga seakan-akan itu adalah jawaban yang benar. Dalam kasus ini peserta ujian dapat menganalisis apakah pertanyaan dan jawaban terangkai menjadi sebuah kalimat yang berkesinambungan. Carilah kesalahan-kesalahan seperti kesalahan ejaan, kesalahan gramatikal, penggunaan ejaan lama, penggunaan istilah yang tidak lazim dan sebagainya. Jika ada kesalahan, maka ada kemungkinan jawaban tersebut adalah jawaban yang salah. Soal dalam Bahasa Inggris akan lebih mudah dipecahkan karena aturan gramatikal yang lebih ketat daripada Bahasa Indonesia, sebagai contoh jika pertanyaan dibuat dalam past tense, maka jawaban juga seharusnya dalam past tense. Walaupun demikian, soal-soal semacam ini sangat jarang disajikan dalam Bahasa Inggris.

Peluang menebak jawaban

Yang sering tidak disadari oleh para penulis soal dan juga peserta ujian adalah peluang. Jika sebuah ujian terdiri dari 100 buah soal pilihan berganda dengan lima pilihan jawaban tanpa sistem minus, dan jika peserta datang ke tempat ujian tanpa mengerti sedikitpun materi yang diujikan, maka teori peluang mengatakan bahwa dia akan menjawab dengan benar sekitar 20 buah soal, atau 20% dari nilai keseluruhan. Sedangkan kondisi yang dapat menyebabkan hasil ujian bernilai 0% adalah jika peserta mengetahui dengan baik topik yang diujikan tetapi dengan sengaja memilih jawaban yang salah untuk seluruh soal.

Artinya, saat datang ke ruang ujian, peserta mendapat hadiah nilai kira-kira sebesar 20%. Mungkin ini salah satu hal yang menyebabkan soal pilihan berganda dianggap lebih mudah daripada soal jenis lainnya. Untuk menghilangkan faktor ‘bonus’ tersebut, nilai akhir yang didapat peserta perlu direvisi dengan menggeser titik 0% ke 20% hasil ujian. Rumusnya kira-kira adalah sebagai berikut:

nilairevisi = (nilai – 20) * 100 / 80
Dengan nilairevisi adalah nilai akhir yang telah direvisi, dan nilai adalah nilai hasil ujian. Semua dalam skala 0-100. Jika nilairevisi bernilai negatif, maka ubah menjadi 0 supaya tidak mempengaruhi hasil ujian-ujian sebelumnya.

Mitos sistem minus

Walaupun demikian, sistem revisi tersebut saya lihat tidak populer. Yang jauh lebih populer adalah sistem minus. Pada sistem minus dengan lima pilihan jawaban, jawaban yang benar bernilai 4 dan jawaban salah bernilai -1, dan jika peserta memilih untuk menjawab, maka nilainya adalah 0. Sedangkan pada sistem minus dengan empat pilihan jawaban, jawaban yang benar bernilai 3 dan yang salah bernilai -1.

Jika seorang peserta mengikuti ujian pilihan berganda sistem minus yang terdiri dari 100 soal dengan lima pilihan jawaban, dan jika peserta tersebut sama sekali tidak mengerti topik yang diujikan tetapi memilih untuk menjawab seluruh soal, maka teori peluang akan mengatakan bahwa dia akan menjawab benar sebanyak 20 soal dan menjawab salah sebanyak 80 soal. Nilai akhir yang ia dapatkan adalah 20*4 – 80*1 = 0. Dan jika peserta memilih untuk mengosongkan lembar jawaban, maka nilai yang dia dapat juga 0.

Mitos yang sering beredar adalah bahwa soal pilihan berganda sistem minus itu menyeramkan karena peserta tidak dapat menebak-nebak jawaban untuk soal yang tidak dimengerti. Padahal, sesuai perhitungan di atas, hasil yang didapat akan kurang lebih sama baik peserta mengosongkan jawaban untuk pertanyaan yang tidak ia mengerti, dan jika peserta memilih untuk menebak jawaban yang benar. Lalu pilihan mana yang lebih baik? Jika saya sama sekali tidak mengerti, dalam kasus ini saya lebih suka mengosongkan jawaban. Dengan menebak, saya akan mendapat nilai tambahan di sekitar 0, ini bisa menguntungan, tapi bisa juga merugikan dan ini murni perjudian. Selain itu, waktu yang digunakan untuk menebak akan lebih baik dialokasikan untuk melakukan metoda tebakan lain yang akan jauh lebih produktif.

Satu hal yang bisa membuat saya memilih untuk menebak adalah jika prediksi nilai dari soal-soal yang lain adalah sedikit di bawah batas lulus. Sebagai contoh jika batas lulus adalah 60%, sedangkan prediksi nilai saya adalah 58%. Dalam kasus ini mengosongkan jawaban sudah pasti mengharuskan saya ikut ujian lagi tahun depan. Tetapi jika menebak, maka masih ada kemungkinan untuk lulus jika saya beruntung.

Tetapi bagaimana jika peserta bisa mengeliminasi satu jawaban yang salah? Jika ada banyak soal yang tidak diketahui jawabannya dengan pasti, tetapi peserta dapat mengeliminasi satu saja jawaban yang salah, maka kondisi akan berbalik. Sebagai contoh seorang peserta tidak mampu menjawab 40 buah pertanyaan, tetapi dia dapat mengeliminasi sebuah jawaban yang salah dari masing-masing soal tersebut. Maka teori peluang mengatakan bahwa dia akan dapat menjawab benar sebanyak sekitar 10 pertanyaan dan menjawab salah sekitar 30 pertanyaan. Nilai ekstra yang dia dapat dari menjawab soal-soal tersebut adalah sekitar 10*4 – 30 = 10. Lumayan! Nilai 10 setara dengan menjawab benar 2,5 soal.

Dan bagaimana jika peserta dapat mengeliminasi tiga jawaban salah sampai didapatkan dua buah jawaban yang salah satu di antaranya adalah jawaban yang benar? Jika hal tersebut terjadi pada 40 buah soal, maka peserta akan menjawab sekitar 20 jawaban benar dan 20 jawaban salah. Nilai tambahannya adalah sekitar 20*4 – 20*1 = 60. Artinya nilai tersebut setara dengan menjawab benar 15 buah pertanyaan! Saya tidak habis pikir pada teman-teman yang tidak berani menjawab padahal sudah mampu mengeliminasi tiga buah jawaban yang salah.

Saya pribadi akan menebak jika mampu untuk mengeliminasi paling tidak satu jawaban yang salah. Walaupun demikian resikonya terlalu tinggi jika misalnya nilai yang saya prediksi saat ini sedikit berada di atas batas lulus. Dalam kasus ini, menebak kemungkinan besar tidak akan dapat mengubah C menjadi B, tetapi kemungkinan mengubah C menjadi D terbuka lebar.

Sifat kronologis

Sebagian pembuat soal menyusun pertanyaan-pertanyaan secara kronologi. Soal-soal awal membahas awal-awal topik bahasan, soal-soal terakhir membahas akhir dari topik bahasan. Menurut saya ini adalah ide yang buruk. Sulit saya menceritakannya karena ini berhubungan dengan intuisi. Terkadang, pada soal yang dibuat secara berurutan seperti ini saya seperti dapat membaca sebuah pola. Biasanya pertanyaan di awal-awal berkualitas baik, tetapi semakin mendekati akhir kualitas akan menurun secara perlahan-lahan. Frekuensi soal-soal yang ‘berkelas’ akan semakin menurun di lembar akhir.

Cara yang baik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengacak urutan soal. Setelah di acak, soal-soal berkualitas rendah akan tersebar dari awal sampai akhir. Hal ini akan menyulitkan peserta untuk mengira-ngira soal mana yang dibuat ketika pembuat soal sudah lelah.

Ujian yang dilakukan dengan menggunakan komputer bisa jadi ditampilkan dalam kondisi acak. Pengacakan yang berbeda dari komputer peserta yang berbeda juga akan meminimalkan hal-hal seperti pencontekan atau kerja sama antar peserta ujian.

Penyusunan oleh tim atau perorangan

Soal-soal adalah manifestasi dari personaliti sang pembuat soal. Terkadang jika kita sudah terlalu banyak menjawab soal-soal yang dibuat oleh pembuat soal yang sama, maka kita bisa melihat adanya pola. Pola yang bagaimana? Agak sulit untuk menjelaskan, tetapi kita bisa melihat kelemahan dan kelebihan seorang pembuat soal dalam menyusun soal. Pola yang didapatkan dari soal-soal yang lain bisa jadi menjadi petunjuk untuk menjawab soal-soal lainnya.

Untuk mengatasinya, soal-soal untuk ujian yang penting sudah biasa disusun oleh beberapa orang dalam sebuah tim, dan bukan oleh perorangan.

Informasi dari soal lain

Tidak seperti soal jenis lain, soal pilihan berganda membutuhkan banyak kata-kata. Ada satu soal dan lima buah jawaban untuk setiap soal yang perlu ditulis di lembar soal. Selain itu soal pilihan berganda bersifat sangat spesifik dan tidak luas, akibatnya diperlukan cukup banyak soal untuk dapat mencakup seluruh topik bahasan. Jumlah soal yang banyak juga dibutuhkan untuk meminimalkan keberuntungan. Akan lebih sulit menemukan peserta ujian yang beruntung ketika mengerjakan 100 soal ketimbang 10 soal.

Banyaknya jumlah teks pada lembar soal memberikan kesempatan bagi peserta ujian untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menjawab soal lain atau paling tidak untuk mengeliminasi sebuah jawaban yang salah.

Pembuat soal yang pintar tidak akan membuat soal yang terkait dengan soal yang lain, atau soal yang jawaban-jawabannya saling mengeliminasi. Walaupun demikian, jika topik yang dibahas cukup sempit, maka pembuat soal akan kesulitan melakukan hal tersebut dan hampir tidak mungkin soal-soal yang diberikan bersifat ’saling lepas’.

Jika sifat ’saling lepas’ sulit untuk dihindari, masalah ini masih dapat dieliminasi dengan mencegah peserta untuk merevisi jawaban yang telah diberikan. Solusi ini mungkin hanya dapat diterapkan dengan bantuan komputer sebagai alat masukan.

Keacakan jawaban

Tidak sering tetapi tidak jarang pula letak jawaban yang benar membentuk sebuah pola. Hal ini memang sudah menjadi sifat manusia yang sulit untuk menghasilkan sesuatu yang acak secara konsisten. Jika urutan jawaban yang benar dari soal nomor 1 sampai 5 adalah C, B, A, E, D, lalu apakah jawaban soal berikutnya adalah C? Ini tidak jauh berbeda dengan tebak-tebakan pada permainan semut-gajah-orang atau yang lebih dikenal di luar Indonesia sebagai rock-paper-scissors.

Untuk mengatasinya, pembuat soal mungkin perlu untuk menggunakan sumber acak selain otaknya, dengan menggunakan dadu atau menggunakan sumber acak dari komputer.(from Priyadi’s Place Blog)

August 16, 2008 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Hmm…

wah.. ini adalah postingan pertamaku setelah lama gk nge-blog lagi,, haha..

dah ganti alamat juga,, haha..

wah bwt temen2 yang bisa ngeblog ajarin aku dunk!!!!!!!

wordpress ternyata beda,, tapi lumayan menyenangkan….

blog ku masih jelek,, jadi jangan diketawain. okey??!!!!

August 16, 2008 Posted by | Uncategorized | 2 Comments

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.